WEB BLOG
this site the web

Ada Apa Dengan UNAS??

“Bil Imtihhani Yukramul mar’u aw Yuhaanu”
(Dengan Ujianlah seseorang Akan di Hormati Atau Dihinakan)

Pepatah Arab yang terkenal itu kembali mlintas dibenak saya. Sesaat setelah melihat berita 6000 siswa-siswi SMU disebuah kota di Indonesia berdemonstrasi menuntut dibatalkannya UNAS (Ujian Nasional). Dari sekilas tangkapan kamera, Nampak beberapa tulisan bernada mengecam terpampang di bawa oleh mereka…”UNAS = Kiamat Tiga Hari”…”UNAS membunuh keahlian siswa”…”Jangan Bodohi Rakyat dengan UNAS” ….dan bebarap kalimat lain yang isinya mengcam UNAS.

Sejak awal pelaksanaan, memang UNAS sudah mengundang banyak kontrofersi. Yang paling umum adalah tentang ketidak adilan , bagaimana mungkin siswa-siswi di pelosok Irian Jaya misalnya, yang hidup dengan kondisi sekolah yang pas-pasan, dengan fasilitas apa adanya, dipaksa untuk sama stadatr kelulusannya dengan sekolah faforit di Bilangan ibu kota Jakarta dengan segala fasilitas kemewahan yang ada di dalamnya. Ini yang dianggap tidak adil sebenarnya.

Tapi kalau kita ingat-ngat, bukankah sejak dulu, ujian model ini sudah ada di sekolah-sekolah?? Yang dulu kita kenal dengan nama EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) yang sebenarnya juga menggunakn format yang sama. Lalu kenapa kita sekarang terasa kebingungan, cemas, dan tidak senang atas adanya UNAS??

Jawabannya bisa jadi bermacam-macam. Tapi yang paling nyata adalah, bahwa dengan UNAS, nilai stadart yang ditetapkan secara nasional akan membuat adanya kemungkinan siswa tidak lulus, sesuatu yang entah bagaimana ceritanya, ketika jaman Orde Baru hal itu tidak pernah terdengar. Dan karena tidak lulus itu juga, secara manusiawi banyak siswa yang kecewa dan sedih. Ada yang berlebihan (menurut saya) dengan berteriak-teriak, mengamuk,membakar sekolahan, bahkan ada individu yang bunh diri. Sedangkan bagi lembaga pendidikannya, hal ini memicu adanya usaha-usaha yang “halal” maupun “non halal” untuk dilakukan. Dari mulai mengadakan tambahan pelajaran psca sekolah. Mengadakan try out, kursus bina belajar, sampai yang “non halal” seperti memberitahu jawaban via sms, kebocoran soal, sampe “tim sukses” yang cepat-cepat mengganti jawaban siswa sebelum dimasukkan ke dalam cashing ujian. Semuanya untuk tujuan agar sekolahnya dibilang sukses dengan target 100% siswa lulus ujian.

Melihat segala fenomena itulah, ingatan saya di hentakkan kembali oleh mahfudzat (kata mutiara ) diatas. Menyadarkan kita bahwa selama ini ternyata kita salah menyikapi ujian ini. Ujian yang seharusnya sebagai ajang evaluasi, telah salah arah menjadi (hanya) ajang eksekusi, antara lulus dan tidak lulus. Ujian yang seharusnya menjadi “ritual” pesta prestasi pendidikan telah berubah arah menjadi sekedar mengjar prestise lembaga pendidikan. Kemulyaan Ujian sebagai saringan alami untuk penentuan generasi terbaik telah berubah menjadi ajang penuntasan segala beban pelajaran dan disiplin sekolah dan akan mencapai puncaknya pada perayaan kelulusan yang “kampungan” dan urakan…mengotori baju sekolah dengan cat, mencorat-coret baju dengan spidol, tak peduli laki-laki perempuan, tak tabu saling menyentuh, saling dorong dan peluk (maaf kalau agak fulgar), saling teriak dan setelah itu…keliling kota, ngebut di jalan, trak-trakan, na’udzubillah kalau sampai diteruskan dengan pesta zina dan minuman keras.

Ujian pada hakekatnya mutlak adanya pada lembaga pendidikan. Karena ujian adalah sarana evaluasi kegiatan pendidikan. Apakah materi pelajaran selama ini bisa difahami oleh siswa, apakah metode pengajaran yang diterapkan sudah tepat, adakah kendala pehaman siswa terhadap mata pelajaran , semuanya bisa diketahui dengan melihat hasil ujian. Kesalahnnya menurut saya adalah, dari sekian pelajaran yang ada, dari semua materi ajar yang ada, yang dipelajari bertahun-tahun, yang diujikan dalam UNAS, yang menetukan “hidup mati” siswa hanya 3-5 materi saja , dan materi Agama tidak termasuk..!! Ini yang tidak adil. Semua pelajaran yang seharusnya juga punya hak evaluasi jadi terbuang percuma. Di lembaga pendidikan Agama (baca : Madrasah) hal ini menjadikan siswa tidak serius mendalami materi Agamanya malahan, Karena alasannya satu, tidak ngaruh sama kelulusan sekolah. Lalu kenapa pelajaran sebanyak itu harus diajarkan kalau hak evaluasinya di tiadakan??

Salah pandang yang kedua adalah niat ke sekolah itu sendiri. Kalau sejak awal niat ke sekolah adalah menuntut ilmu, maka kerelaan yang dibangun adalah, tidak akan berhenti belajar sampai ilmu itu dikuasai. Ketika dinyatakan belum menguasai suatu ilmu, maka hasrat besar yang timbul bukanlah sebuah keputusa asaan, tapi adalah sebuah semangat yang lebih berlipat untuk menguasai ilmu itu. Tapi karena sudah salah niat dari awal, dimana tujuan sekolah adalah mencari Ijasah. Kalau sudah dapat Ijasah bisa dapat kerja. Jadi ilmu itu dianggap ga penting. Karena yang dilihat itu ijasah dan bukan ilmunya. Ibaratnya orang berkendara sepeda motor, bisa jadi dia baru bisa naik motor, itu juga “ajut-ajutan”, rambu-rambu ga tahu, tapi kenapa dia bisa naik motor di jalan?? Karena punya SIM, soal mengendara mah ga penting, asal punya SIM. Jadi SIM lebih utama dari kemampuan berkendara itu sendiri….padahal seharusnya, SIM adalah keteranagn yang bisa dipertanggung jawabkan oleh fihak kepolisian yang menyatakan bahwa seseorang itu benar bisa mengendarai kendaraan, tahu rambu-rambu dan telah cukup usia untuk berkendara….Bukan asal “tembak” kan….

Maka seharusnya, ujian bukanlah sesutu yang ditakuti. Ibarat seorang pesilat, ujian adalah masa yang dinantikan karena itu pintu awal untuk naik tingkat kepada yang lebih tinggi. Ibarat tentara, itu adalah pertempuran sebenarnya yang akan menguji naluri tempurnya setelah sekian lama berlatih dan terus berlatih. Ibarat atlet, ini adalah pertandingan sesungguhnya, yang memperebutkan medali yang berharga. Kekalahan bagi peslita dan olahragawan adalah hal biasa. Dan terluka, bahkan kematian bagi seorang tentara adalah resiko. Begitupun kegagakan dalam ujian. Hal ini seharusnya disikapi sebagai bahan evaluasi bahwa ada yang kurang tepat dalam proses pembinaannya. Dan sekolah harusnya terpacu untuk merubah hal ini. Bukan sekedar memberikan secarik kertas tanda kelulusan, tanpa bisa dipertanggung jawabkan.

Bukankah selalu ada soal evaluasi di setiap selesai pembahasan suatu bidang studi?? Bukankah selalu ada Homework yang kita kerjakan diruamh sebagai ajang asah fikir di rumah?? Bukankah selalu ada usaha insentif untuk peningkatan prestasi belajar bebrapa saat menjelang ujian?? Bukankah selalu ada try out, kursus tambahan, jam pelajaran extra, dan puluhan support action lain untuk suksesnya ujian?? Ada puasa senin kamis bersama, tahajud massal, istighosah kubro, sholat duha jamaah, dan lainlaian. Lalu apa yang harus ditakuti dalam ujian?? Bukankah semua usaha sudah dilakukan??

Saya sering membayangkan, bila musim UNAS tiba, maka gempita-nya tidak kalah meriah dengan musim pendaftaran sekolah. Ada baliho besar dengan gambar siswa yang tersenyum siap menghadapi ujian. Atau sedikit “nyeleneh” dengan gambar Rambo misalnya yang sedia membawa senajata, lalu doberi ucapan di bawahnya : “ Saatnya beraksi di UNAS”. Lalu kita temukan di mall atau di toko-toko Buku, banyak ucapan bernada ceria yang mensuport para siswa untuk sukses di UNAS. Tidak ada lagi gambar siswa yang tegang dan sepi dalam baliho ucapan selamat menempuh UNAS itu. Semua bersikap tenang dan sedia. Wajah UNAS dirubah dari menegangkan menjadi begitu ceria. Sebab UNAS bukan sesuatu yang istimewa. Dia hanyalah ujian nasional biasa. Kalau sudah siap, kenapa musti tegang dan penuh nuansa menakutkan?? Sebab, ketakutan hanya berlaku bagi orang yang merasa berdosa dan tidak siap melakukannya…

***

17 Tahun yang lalu….Oky kecil duduk di bangku depan di sebuah gedung pertemuan pesantren yang baru saja di masukinya di tahun pertamanya. Nampak didepannya seorang kyai tersenyum anggun bersiap berpidato dalam rangka tasyakuran penutupan Ujian pesantren yang baru saja selesai…Denga tatapan penuh asuh, sang kyai lalu berkata :

“Anak-anakku sekalian…Sungguh saya bangga dengan kalian semua. Kalian yang masih kecil-kecil, jauh dari orang tua, ada yang kurang sehat, ada yang kurang tidur karena belajar. Tapi kalian semua tidak pernah takut dengan Ujian..Sungguh kalian lebih hebat dari napoleon, dia itu tentara ulung, panglima perkasa, tidak pernah akut dengan mush bagaimanapun kuatnya…tapi tidak pernah mau di uji…karena dia sangat takut dengan ujian….maka sungguh, saya bangga dengan kalian….”

Ah….sudah lama sekali waktu itu berlalu….

Wallahu a’lam….

0 komentar:

Poskan Komentar

 

W3C Validations

Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Morbi dapibus dolor sit amet metus suscipit iaculis. Quisque at nulla eu elit adipiscing tempor.

Usage Policies